Waspada Transaksi Via Internet, M-Banking Jadi Incaran Pelaku Cyber Crime

cyber-crimeSurabayaraya 26/01/16 : Tidak bisa dipungkiri, teknologi dunia maya (internet) semakin canggih dan berkembang. Penyebarannya pun, masif dan sulit dibendung, seiring kebutuhan hidup, yang seolah mewajibkan setiap penggunanya mengikuti trend. Namun siapa sangka, para penjahat dunia maya pun, terus menyusup pada sisi lemah dunia maya tersebut. Memang, modus kejahatan yang lazim disebut Cyber Crime itu sudah lama menggila. Namun, apa modus terbaru yang saat ini diduga sedang diincar para pelaku cyber crime saat ini?

Tak heran, saat ini, salah satu putra terbaik Polrestabes Surabaya, yakni Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Takdir Mattanete atau biasa dipanggil Nette Boy, dipercaya mewakili Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengenyam pendidikan Countermeasures Againt Cyber Crime (CAC) di Jepang. Takdir di Jepang bagaimana menangani kasus kejahatan dunia maya yang kini di Indonesia mulai diperketat dengan dipenuhinya UU ITE.

Bahkan, dari data yang dihimpun Surabayaraya dari Sat Reskrim Polrestabes Surabaya. Selama tahun 2015, jumlah kasus cyber crime (ITE) yang ditangani Polrestabes Surabaya, ada 27 kasus, dan saat ini baru 17 kasus yang sudah diproses. Jenis kasusnya pun beragam antara lain perjudian online (seperti judi bola dan judi togel), prostitusi online. Dan baru-baru ini, terdapat puluhan WNA dari Hongkong dan Taiwan yang berhasil digerebek, serta penipuan-penipuan melalui online. Bahkan, yang terbaru, Satreskrim berhasil membongkar judi online beromzet miliaran rupiah.

IMG-20160126-WA0101“Setidaknya, kami sudah berhasil membongkar puluhan kasus yang menggunakan fasilitas internet atau media online. Dan apapun bentuk kejahatannya, jika pelakunya menggunakan fasilitas internet secara online, bisa dikategorikan dalam kejahatan Cyber Crime,” tandas AKBP Takdir Mattanete.

“Saat ini memang cyber crime mulai mewabah, bahkan kini”, Asia menjadi sasaran empuk bagi para jaringan pelaku cyber crime, tak terkecuali di Indonesia. Tak bisa dipungkiri, Indonesia menjadi negara yang paling mudah dan empuk para pelaku Cyber Crime. Sebab, pengguna dunia maya dan fasilitas internet di Indonesia, sedang menggila. Secara peringkat, tidak tersebut angkanya. Tapi, itulah yang kemudian menempatkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah korban kejahatan Cyber Crime yang cukup tinggi”, tambahnya.

Pelaku cyber crime banyak dari pelaku WNA seperti Hongkong dan Taiwan. Sebagian lagi, juga berasal dari negara lain. Tapi, banyak juga pelaku cyber crime lokal di Indonesia, yang menggunakan tehnologi cyber untuk melakukan aksinya.

Hal yang perlu di waspadai dari pelaku cyber ini, apabila ada orang yang tidak dikenal, mengirimkan sebuah website atau kirim blackmail. Ketika mendapat itu, jangan langsung dibuka. Sebab, itu bisa menjadi langkah awal bagi pelaku untuk mengambil data-data dari korban. Atau, apabila ada yang memiliki akun, namun dibajak. Itu juga perlu diwaspadai.

Penangananan cyber crime di Indonesia di mata dunia sudah membaik. Ini setelah dibuktikan dengan beberapa hasil pengungkapan kejahatan yang terekspos di media. Kendati begitu, Indonesia tetap harus didukung dan bisa bekerjasama dengan negara lain untuk bersama-sama memerangi cases cyber crime ini.

“Sasaran terbaru yang menjadi incaran para pelaku cyber crime adalah internet M-banking. Ini yang harus di waspadai penggunanya. Karena, dana bisa berpindah dalam jumlah besar, sehingga kerugiannya besar pula. Modusnya, pelaku menyebar virus kepada korban yang sedang menggunakan (online). Darisana, pelaku bisa mengambil data korban melalui virus yang di sebar oleh pelaku cyber crime tadi” pungkas AKBP Takdir.***day

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*