Unit PPA Ungkap Pesta Homo Seks, ini kata Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya

Image 2018-03-13 at 17.40.59

Pelaku M. Firmansyah saat di ruang Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Polrestabes Surabaya (14/03/2018) : Bermula dari perkenalan di sebuah group aplikasi messenger Whatsapp, praktik prostitusi sesama jenis kembali terjadi di Surabaya.

Dari perkenalan ini, kemudian seseorang bernama Muhammad Firmansyah yang kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, menawarkan jasa esek-esek sejenis di situs jejaring sosial Facebook.

Kasubbag Hummas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Dja’far mengatakan, Tindak Pidana Perdagangan Orang ini terungkap Senin, 12 Maret 2018 sekitar pukul 17.30 WIB di hotel Hasma Jaya 2 Jl. Pasar Kembang nomor 16, Surabaya.

Korban berinisial EGP (23) warga Jl. Tenggumung Karya Lor, Wonokusumo, Semampir, Surabaya ini, sebenarnya sudah saling kenal dengan pelaku Firman sejak 1 minggu yang lalu di dalam group Whatsapp CNC (Chuby and Chasser).

Kemudian Firman, pelaku 32 tahun itu, menulis status dalam group Facebook ‘Gang Pattaya Surabaya’. Pria warga Jl. Simolawang Pojok, Simokerto, Surabaya tersebut menulis ‘disini ada yang bot??teman aku dari semarang lagi cari bot surabaya…jika ada chat me ya….Rizky 08563133XXX’.

Status yang sejatinya sebagai tawaran layanan seks sejenis (homo) ini selanjutnya diminati oleh seseorang. Peminat pun menghubungi nomor yang tertera dan melakukan tawar menawar. Setelah tarif disepakati, Firman dan peminat menentukan waktu dan tempat.

“Kemudian tersangka mengajak korban untuk berkenalan, yang mana tersangka menentukan tempat untuk mereka bertiga. Setelah ada kecocokan harga tersangka menuju di hotel yang ditentukan untuk melakukan persenggamaan menyimpang secara sex threesome,” kata Lily, Selasa, (13/03).

Lily mengungkapkan, berdasarkan pengakuan korban maupun tersangka, korban EGP mendapat fee sebesar Rp. 300 ribu dari permainan seks menyimpang ini. dalam kasus ini, Unit PPA menyita barang bukti berupa uang tunai Rp. 500 ribu dan 1 unit handphone merek Vivo.

“Tersangka kami jerat dengan Pasal 2 UU No. 21 tahun 2007 tentang TPPO dan Pasal 506 KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 120 juta,” tandas Lily.***lld

Laporan : Unit PPA Satreskrim.

Editor : Saiful.

Tags: