Menuju Polisi Profesional, Sat Reskrim Polrestabes Surabaya dan Jajaran Budayakan Olah TKP

tkp2Polrestabes Surabaya, (11/04/17) : Tingkatkan kemampuan personil, Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya melaksanakan kegiatan Pelatihan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), Selasa (11/04/17).

‘Pelatihan Olah TKP’ Dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga, Tim INAFIS memperagakan tahapan olah TKP yang benar. Peragaan itu ditunjukkan di depan sejumlah Kanit di Satreskrim maupun Kanit Reskrim Polsek jajaran beserta sejumlah penyidik.

Seorang pria nampak gemetar di pinggir jalan raya. Di dekat pria itu, nampak sebuah helm dan celurit tergeletak. Pria itu terus memegangi kakinya sambil meringis kesakitan. Tidak lama berselang, sejumlah Polisi berpakaian seragam mendatangi pria tersebut.

Sebagian Polisi menginterogasi sang pria. Ternyata pria tersebut merupakan korban perampasan motor. Lantas apa yang kemudian dilakukan Polisi?

Kejadian diatas merupakan skenario yang disiapkan oleh Sat Reskrim Polrestabes Surabaya untuk menggelar Olah TKP (tempat kejadian perkara).

tkp“Olah TKP mulai saat ini, sesuai perintah Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Mohammad Iqbal mulai saat ini harus menjadi budaya. Artinya, langkah ini harus terus menerus dilakukan. Tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan TKP. Dan TKP adalah bank informasi, sehingga olah TKP adalah mengolah informasi. Untuk itu kita wajib melakukan olah TKP dengan benar. Sebab kesalahan dalam olah TKP akan berimbas pada minimnya informasi,” papar AKBP Shinto.

Dalam peragaan Olah TKP tersebut, AKBP Shinto menyatakan, kedepan jika terjadi kejahatan curas, curat dan curanmor atau TKP apapun, setiap petugas piket, Kapolsek maupun Kanit Reskrim, wajib turun ke lokasi kejadian.

Dengan tahapan sesuai dengan yang diperagakan Tim Inafis tersebut. Diantaranya, konsolidasi sebelum olah TKP, memasang garis polisi sekaligus menjaganya, kemudian menguasai TKP agar proses olah TKP bisa berjalan lancar dan aman.

“Prinsipnya, TKP dijaga dengan benar dan harus merasa bahwa area TKP ini adalah penguasaan petugas oleh TKP. Sehingga tidak hanya masyarakat yang tidak berkepentingan masuk ke area TKP. Tetapi termasuk Polisi darimanapun yang tidak berkepentingan dalam pengolahan TKP juga dilarang masuk ke dalam batas penguasaan TKP,” beber AKBP Shinto.

Idealnya, dalam sebuah olah TKP, kendati hanya ada 4 orang, mereka harus bisa menguasai TKP tersebut. Mulai dari mengamankan TKP, mengolah informasi di TKP, labeling barang bukti hingga membuat BAP (berita acara pemeriksaan) TKP.

Perwira Polisi asal Medan ini menegaskan, pihaknya bakal mewajibkan setiap anggotanya serta jajaran polsek untuk membuat dan mengirimkan BAP TKP. “Mengapa ini kami wajibkan. Sebab mem-BAP sebuah TKP, selama ini belum berjalan. Dan ini harus kita mulai agar Olah TKP bisa menjadi budaya. Tentunya, agar setiap langkah yang kita ambil, bisa profesional,” tandasnya.***day

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*