Kapolrestabes Surabaya Himbau Mahasiswa UNUSA tentang Kajian PPMPI Religious Extrimism

29Polrestabes Surabaya (13-04-2018) : Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan sebagai nara sumber dalam kegiatan Kajian Rutin PPMPI (Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam) bertempat di Universitas Nahdatul Ulama Surabaya (UNUSA) Kampus B Jl. Raya Jemur Sari No.57 Surabaya dengan tema Religious Extrimism dalam perspektif Psikologi dan Sosiologi.

Sambutan Wakil Rektor I Universitas Nahdatul Ulama Surabaya Prof. Kacung Marican menyampaikan tema Religious Extrimism mau tidak mau bersentuhan dengan masalah keamanan masyarakat, Polri memiliki pengalaman panjang dalam mengatasi masalah-masalah terorism, sehingga Kapolrestabes Surabaya oleh UINSA di undang untuk share dalam kajian Religious Extrimism ini. dalam kesempatan ini Prof. Kacung Marican meminta maaf karena Bapak Rektor berhalangan hadir dikarenakan berada di Taiwan bersama dengan Rektor Universitas yang lain untuk bekerjasama dengan Universitas yang ada di Taiwan.

29 a

Dalam Kajiannya Kombes Pol Rudi Setiawan menyampaikan tentang pengalaman-pengalaman yang ada di kepolisian untuk di share dalam menghadai masyarakat khususnya tentang msyarakat yang ekstrim dalam beragama, dalam pandangan masyarakat ekstrim adalah hal yang berkonatasi negatif atau sesuatu yang berlebihan dan apa yang berlebihan pasti tidak baik hasilnya.

Kaitanya dengan agama, dalam keyakinan agama Islam kalau dalam beragama berlebihan dengan kata lain berbuat apa yang tidak di ajarkan dalam Al-Quran dan yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW selaku utusan Allah SWT, tentunya jangan di lakukan. Semakin berkembangnya Zaman pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW ada tetap melakukan ajaran yang di syariatkan ada juga yang menginterpretasi tentang Syariat yang diajarkan, hingga tibalah Zaman sekarang yang melakukan hal-hal yang berlebihan dalam beragama.

Semakin banyaknya masyarakat yang berlebihan dalam hal beragama di karekan, pertama belajar pada orang yang tidak tepat, yang tidak jelas turunan ilmunya di peroleh dari sumber yang tidak benar. Kehatihatian dalam memilih guru inilah yang harus di perhatikan, mengingat ada juga kasus di tengah-tengah masyarakat ada orang yang tiba-tiba hadir menyebarkan suatu pemahaman. tanpa tahu kridibilitas atau siapa asal usul otrang yang mengajarkan pemahaman tersebut, ini yang perlu di perhatikan bersama.

Tentunya supaya tidak masuk dalam kelompok ekstrim tersebut, harus mendapatkan guru yang tepat, yang Kridible, yang benar-benar memiliki kopetensi penguasaan tentang hukum-hukum agama islam maupin agama lain, karena agama-agama lain juga ada yang ekstrim. dan perlu di garis bawah ekstrim itu bukan agamanya melainkan orangnya, seperti yang dilihat bersama semua agama mengajarkan tentang kebaikan.

Dan yang kedua pada zaman sekarang ketika ada pertanyaan, maka yang sering ditanya adalah Mbah Google dimana itu adalah sebuah program yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Apa yang di ketik utuk di cari maka akan muncul walaupun itu salah termasuk blog-blog yang bertujuan untuk menyesatkan tentang berideologi dalam beragama, ini dikeranakan tidak bertanya pada orang/guru yang tepat.

Ketiga cara pemahaman yang tidak benar terhadap pengetahuan atau ilmu agama yakni sumbernya tidak tepat, tidak bertanya dan pemahamannya yang salah. Dan yang keempat pengaruh lingkungan ini yang besar dan cukup berbahaya karena dengan bergaul dengan lingkungan yang salah bisa merubah perilaku seseorang yang ekstrime atau berlebihan.

Ciri-ciri dari Radikalisme yang paling terlihat adalah Pemahaman agama yang melampaui batas/berlebihan, merasa paling benar dan bertentangan dengan hukum yang berlaku. dari ketiga ciri-ciri tersebut itulah yang menjadi kelompok-kelompok terorisme.

Konsep NKRI ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan/adat-istyiadat tapi milik kita semua dari sabang sampai marauke yang di kemas dalam Bhineka Tunggal Ika Pancasila.

29 bDalam wawancara Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menyampaikan bahwa “pemahaman Religius Extrimism itu tidak benar karena akan menimbulkan radikaleisme dan terosrisme itu tidak boleh berkembang dan harus dilawan sehingga radikaleisme dan terosrisme tidak ada di surabaya, Kepada para mahasiswa tolong cari sumber yang benar, belajarlah pada orang yang tepat dan tidak mengembangkan ekstrimism dalam beragama dan saya berharap apa yang kami sampaikan tadi dapat mencegah mahasiswa untuk tidak salah dalam pemahaman dalam beragama. seperti yang tadi kita sepakati untuk mengirimkan sinyal Damai Dari Surabaya Untuk Indonesia” Harap Kombes Pol Rudi Setiawan. ***Uno