Aiptu Puji Polisi Inspiratif Bisa Berkomunikasi Dengan Mayat

Aiptu puji Mendapatkan Penghargaan Dari Media Berita Jatim dan Berfoto Bersama dengan Walikota Surabaya Ibu Risma

Aiptu puji Mendapatkan Penghargaan Dari Media Berita Jatim dan Berfoto Bersama dengan Walikota Surabaya Ibu Risma

Surabayaraya 1/4/2016 : Sejumlah kasus pembunuhan di Surabaya selama kurun waktu 10 tahun ini terungkap berkat kejelian dan keuletannya dalam melakukan identifikasi di tempat kejadian perkara (TKP).

Menurut Aiptu Pudji nalurinya bisa membentuk video dan merekam kembali kejadian sebelum dan sesudahnya.

“Saya belajar otodidak dan banyak membaca novel kriminal hukum karya Jeffrey Deaver tentang sebuah peristiwa kriminalitas,” terang Aiptu Pudji Hardjanto

Banyak kasus unik berhasil diungkap setelah Aiptu mempelajari dengan jeli TKP kriminalitas baik itu kasus pembunuhan sadis, bunuh diri.

Dalam mengungkap kasus tersebut Aiptu Pudji mengaku menggunakan naluri dan keuletan berpikir sehingga mayat korban pembunuhan bisa diajak berkomunikasi.

“Naluri bisa membentuk video dan merekam kembali kejadian setelah dan sesudahnya,” terang Aiptu Pudji.

Hasilnya mayat-mayat tersebut bisa bercerita, benda di sekeliling juga turut bercerita saat melakukan olah TKP.

Tidak jarang Pudji juga sering didatangi jenazah yang diperlakukan seenaknya seperti ketika menangani jenazah orang alim yang dermawan yang ditemukan di Gunung Anyar pada tahun 2004.

“Jenazah tersebut saya lempar ke mobil dan saya bawa ke RSUD Dr Soetomo. Malamnya saat saya tidur saya dilempar-lempar di ranjang badan sakit semua,” kata Pudji

Ternyata jenazah yang saya lempar tersebut orang yang dermawan tidak pernah mengemis dan rajin beribadah meski tidak punya rumah.

Anggota Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) mendapat penghargaan dari Internasional saat mengungkap identitas jenazah korban Air Asia yang kecelakaan di perairan Pangkalan Bun Kalimantan Desember 2014 lalu melalui sidik jari.

Berkat peristiwa inilah, Pudji dan rekan-rekan INAFIS Polda Jatim, dapat mengungkap 112 dari 115 jenazah awak pesawat Air Asia QZ 8501yang dikirimkan ke Mapolda Jatim, dari lokasi jatuhnya pesawat di Pangkalan Bun.

Berawal dari fenomena sehari-hari inilah, Puji Hardjanto yang bertugas sebagai anggota Unit Indonesia Automatic Fingerprint Indentification System (INAFIS) atau Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya, mempunyai ide meluncurkan sebuah buku berjudul “TKP Bicara”.

Dari buku ini bagi Anggota POLRI Secaba Milsuk Polri tahun 1993 – 1994, berharap masyarakat dapat lebih memahami tentang Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Pasalnya, sedikit banyak posisi awal sebuah kejadian, barang bukti sekecil apapun dapat membantu polisi untuk mengungkap dan memecahkan sebuah kasus.

Buku bercover Pudji sedang meneliti sidik jari telunjuk korban meninggal karena musibah jatuhnya pesawat Air Asia satu tahun lalu, menjadi pengalaman berharga untuk dibagikan kepada masyarakat, agar mereka sadar apabila menemui sebuah TKP, harap tidak ceroboh atau merubah posisi. Sebelum pihak berwajib (Polisi) datang guna melakukan olah TKP.

Sebab TKP memiliki keterkaitan dengan proses penyelidikan polisi mencari dan mengumpulkan keterangan, petunjuk, barang bukti, hingga identitas korban atau tersangka.

Anggota POLRI berpangkat Ajun Inspektur Polisi Satu (AIPTU), yang kerap memakai kacamata hitam dalam setiap tugasnya ini, membagi pengalamannya tentang beragam TKP yang pernah ia pecahkan.

Bahkan, hanya dengan barang bukti yang terkadang disepelehkan, Puji mampu membantu anggota reserse kriminal untuk memecahkan beragam kasus.

Dari hal itulah polisi berpangkat Aiptu ini mendapat penghargaan dari Media Online Berita Jatim du Ulang Tahunnya yang ke-10  berupa Sebutan Polisi inspiratif dan mendapat Kenang- kenangan berupa cinderamata menggambarkan wajah sosok dirinya di sebuah kanfas Lukisan Karikatur yang sudah terbingkai.***Ars