Aiptu Pudji Hardjanto : Serangkaian Prosedur Tindakan yang Harus Dilaksanakan Saat Proses Identifikasi

Aiptu Pudji Hardjanto saat melakukan proses identifikasi peristiwa bom bunuh diri di salah satu Gereja di Surabaya.

Polrestabes Surabaya (16/06/2018) : Dalam ranah hukum  keperdataan identifikasi korban sangatlah penting dalam hal penetapan ahli waris, hak pensiun, permasalahan perbankan maupun asuransi dan lain-lain.

Baca juga : Aiptu Pudji Hardjanto : IDENTIFIKASI KORBAN BENCANA, HARUS CEPAT ATAU HARUS BENAR ?

Dalam proses identifikasi korban bencana ada serangkaian prosedur tindakan yang harus dilaksanakan sesuai dengan protocol global DVI tiap-tiap negara dalam  penanganan bencana berupa :

  1. Initial action at the disaster site. Ini merupakan tindakan awal di TKP dalam hal ini ada prosedur untuk mencari korban dan property yang ada, memberi label jenazah, memasukkan jenazah, membuka kembali lalu membungkus korban dengan baik serta mendokumentasikannya.

  1. Post mortem examination. Fase ini dilakukan oleh tim pakar (expert) yang meliputi penerimaan, pemeriksaan jenazah dan propertinya, hingga penyimpanan jenazah korban.

Berdasarkan prosedur internasional setidaknya ada lima bagian tim expert yang bertugas pada unit post mortem antara lain ahli Fingerprint Forensik, ahli odontology, ahli Patology Forensik, ahli Patologi Forensik dan ahli DNA.

  1. Antem mortem data collection. Dalam tahap ini tim DVI mengumpulkan data korban dari keluarga, sahabat, teman tetangga, dokter gigi serta siapapun yang mengetahui dan bisa memberikan informasi tentang korban.

Informasi dan data-data yang diperlukan dalam fase ini antara lain : tato, tanda lahir, catatan medis misalnya pernah patah tulang, operasi Caesar, operasi usus buntu, informasi pakaian, perhiasan dan property lainnya dikenakan korban terakhir kalinya. Dalam proses ini pula dikumpulkan juga data sidik jari baik dari dokumen milik korban maupun dari sumber yang lain serta pengambilan sampel DNA dari keluarga korban.

  1. Reconciliation Meeting. Ini adalah proses perbandingan/pencocokan data-data dengan berbagai metode identifikasi dalam DVI yakni data primer yang terdiri dari sidik jari, odontologi dan DNA serta data sekunder berupa catatan medis, temuan medis, tato, tindik pada tempat-tempat tertentu, bekas operasi property dan lain-lain.

Dalam tahap ini para ahli berkumpul dalam satu ruang untuk melakukan perbandingan antara data post mortem dan data antem mortem. Kesesuaian antara kedua data tersebut menentukan dan memastikan akurasi identifikasi jenazah korban.

Jika masih ditemukan ketidakcocokan maka tim bisa mengevaluasi lagi proses pengumpulan data sebelumnya atau menyatakan bahwa jenazah belum teridentifikasi atau korban tidak terkait dengan peristiwa bencana yang sedang diteliti.

Hal inipun pernah terjadi, salah satunya pada saat identifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat air asia yakni ditemukan satu korban yang tidak ada kaitannya dengan kecelakaan tersebut dan ditemukannya mayat seperti bayi namun saat diperiksa ternyata bukan jenazah manusia.

  1. Debriefing tahap ini merupakan rangkaian terakhir dalam identifikasi berdasarkan prosedur DVI berupa proses analisa, tanya jawab dan evaluasi tim ahli dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam identifikasi jenazah korban bencana.

Untuk menjamin ketepatan dalam proses identifikasi jenazah korban maka semua prosedur diatas wajib dilakukan secara benar dan tepat.

Terkait kecepatan waktu identifikasi merupakan hal yang diharapkan bukan hanya oleh keluarga korban namun juga tuntutan tugas dan tanggung jawab tim DVI untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.

Namun banyak hal yang membuat rentang waktu yang dibutuhkan semakin panjang, salah satunya adalah kondisi korban saat ditemukan yang mana semakin rusak kondisi korban semakin menyulitkan proses identifikasi yang tentunya berbanding lurus dengan rentang waktu yang dibutuhkan oleh tim DVI dalam melaksanakan identifikasi.

Semoga tulisan ini bisa dijadikan tambahan informasi kepada masyarakat pada umumnya tentang bagaimana upaya tim DVI melaksanakan identifikasi secara cepat namun tidak kalah pentingnya adalah benar dan tepat.

Sehingga ketepatan hasil identifikasi korban bisa  dipertanggungjawabkan secara hukum dan secara ilmiah tidak terbantahkan. Seperti halnya motto Inafis Polri “Velox Exatus et Accuratus” (cepat, cermat dan tepat).

Penulis :

Aiptu Pudji Hardjanto

Anggota Inafis Polrestabes Surabaya

Mahasiswa Magister Forensik Universitas Airlangga.